Lynx menatap Jelita dalam-dalam, mencoba memahami alasan di balik kata-katanya. “Aku tahu kau ingin cepat sembuh, tapi ini bukan perjalanan yang mudah. Aku harus mengerahkan seluruh kekuatanku untuk sampai ke sana dengan cepat, dan itu berarti aku tidak bisa membawamu.”
Jelita menggigit bibirnya, tampak kecewa. “Aku hanya ingin membantu, Lynx.”
“Kau sudah banyak membantu,” kata Lynx dengan nada lebih lembut. “Tinggallah di sini dan pastikan suku Yaksa bisa bergabung dengan Sinto tanpa masalah. Itu adalah bantuan terbesar yang bisa kau berikan.”
Ayunga menyentuh bahu Jelita, mencoba menenangkannya. “Lynx benar, Jelita. Kau telah melalui banyak hal. Kami akan melindungimu sampai saatnya kau siap untuk melanjutkan perjalanan.”
Jelita akhirnya mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih terlihat cemas. “Baiklah, kalau itu keputusanmu, Lynx. Tapi hati-hati di perjalanan.”
Lynx memberikan senyum tipis kepada Jelita, lalu Lynx mengeluarkan peta yang sebelumnya dia ambil, Lynx memberi arahan kembali. "Ini adalah jalur yang paling aman. Aku tidak tahu alasannya, tapi di jalur ini, aman dari mahkluk mutasi dan berbagai tanaman berbahaya. Kalian bisa menggunakan perahu dari tempat ini, namun setelah tiba di titik ini, sebaiknya dari sini, kalian melewati darat agar lebih aman."
Kepala suku Uban dan para tetua memperhatikan dengan baik dan menganggukkan kepala setuju.
"Kami akan mengikuti saranmu, Lynx." Kata kepala suku Uban.
"Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Ayunga.
Lynx menjawab singkat."Sekarang juga. Setelah berpamitan dengan Darek dan suku Raksa lainnya."
"Kamu baru sampai. Kamu perlu istirahat Lynx!" Jelita berkata dengan nada khawatir.
Lynx memegang bahu Jelita sambil berkata, "aku baik-baik saja. Sekarang, waktu sangat berharga dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin."
Jelita merasa wajahnya di balik topeng menjadi panas. "Untung dia tidak melihat wajahku di balik topeng ini." Batinnya.
Lynx Ialu memandang ke arah Ayunga dengan pandangan serius. “Aku harap kita bertemu lagi dalam kondisi yang lebih baik. Jangan tunda untuk meninggalkan tempat ini. Bahaya sudah terlalu dekat,” katanya dengan nada tegas.
Ayunga mengangguk, meskipun sorot matanya menyiratkan kelelahan. “Kami mengerti, Lynx. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan. Kami akan bersiap segera.”
Setelah mengucapkan perpisahan, Lynx beranjak menuju bangunan di sisi lain perkampungan. Di sana, Darek, Rafin, dan Ekar sedang duduk bersama beberapa anggota suku Raksa yang baru saja diselamatkan. Saat Lynx memasuki ruangan, semua orang menoleh dengan penuh perhatian.
“Lynx!” seru Ekar sambil berdiri. “Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja,” jawab Lynx sambil melangkah masuk. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, memperhatikan wajah-wajah yang terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. “Bagaimana dengan kalian semua? Apa kalian baik-baik saja?”
Salah satu pria dari suku Raksa berdiri dan mendekati Lynx. “Kami semua baik-baik saja, berkatmu,” katanya dengan nada tulus. “Kalau bukan karena kau, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami.”
“Benar,” tambah seorang wanita muda dengan suara bergetar. “Kami sudah kehilangan harapan. Tapi kau datang... Kau menyelamatkan kami.”
Lynx mengangguk pelan. “Kalian tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”
Darek, yang berdiri di dekat jendela, berjalan mendekati Lynx sambil merangkul pundaknya. “Lynx, aku sudah memberi tahu semua orang di sini tentang kondisi suku Raksa di tempat lain. Tentang bagaimana mereka sudah bersatu di bawah pimpinan Raka dan akan bergabung dengan suku-suku lain untuk melawan Monrest.”
Salah satu pria tua di sudut ruangan langsung menatap Lynx dengan penuh harap. “Benarkah itu, Lynx? Apa yang dikatakan Darek itu benar?”
Lynx mengangguk dengan tegas. “Apa yang Darek katakan memang benar. Suku Raksa sekarang dipimpin oleh Raka. Mereka sedang dalam perjalanan ke barat untuk berkumpul dengan suku-suku lain. Tujuan mereka adalah menyatukan kekuatan untuk melawan Monrest.”
Suasana di ruangan itu langsung menjadi riuh. Beberapa orang mulai berbicara satu sama lain, membahas kemungkinan bergabung dengan suku Raksa yang lain.
“Ini berita yang luar biasa!” seru seorang pria muda. “Kami akhirnya punya kesempatan untuk melawan mereka!”
“Tapi... apakah kita cukup kuat untuk bergabung?” tanya seorang wanita dengan nada ragu. “Kita sudah kehilangan banyak orang. Apa mereka akan menerima kita?”
Lynx melangkah maju, menarik perhatian semua orang. “Tidak ada alasan bagi kalian untuk ragu. Setiap orang yang mau bertarung melawan Monrest akan diterima. Kita semua punya tujuan yang sama—melindungi keluarga kita, tanah kita, dan masa depan kita.”
Rafin, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Lynx, kau tahu bahwa kami tidak punya rencana atau tujuan yang jelas sejak tempat kami dihancurkan. Apa yang harus kami lakukan sekarang?”
Lynx memandang Rafin dengan serius, lalu menoleh ke seluruh anggota suku Raksa yang hadir. “Aku punya satu saran. Bergabunglah dengan suku Yaksa. Mereka akan segera pergi ke barat untuk bergabung dengan suku Raksa dan suku-suku lainnya. Bersama-sama, kita akan menjadi kekuatan yang lebih besar untuk melawan Monrest.”
Darek mengangguk setuju. “Aku juga berpikir itu ide yang bagus. Kita tidak punya waktu untuk ragu-ragu lagi. Ini kesempatan kita untuk bertahan hidup.”
Seorang pria tua berdiri dari sudut ruangan. “Aku setuju. Aku ingin bergabung. Kita tidak bisa terus hidup seperti ini, berpindah-pindah tanpa tujuan.”
“Aku juga setuju!” seru seorang wanita. “Aku ingin anak-anakku tumbuh di tempat yang aman. Kalau bersatu adalah cara untuk melindungi mereka, aku akan melakukannya.”
“Begitu pula dengan aku,” kata pria lain dengan nada penuh semangat.
Perlahan, semua orang di ruangan itu mulai menyatakan persetujuan mereka. Suasana yang awalnya dipenuhi keraguan berubah menjadi penuh harapan dan semangat baru.
“Kalau begitu, persiapkan diri kalian,” kata Lynx sambil memandang mereka satu per satu. “Ikuti suku Yaksa saat mereka pergi. Jangan tunda waktu. Bahaya semakin dekat, dan kita tidak bisa membuang kesempatan ini.”
Darek menepuk bahu Lynx dengan senyum lebar. “Terima kasih, Lynx. Kau benar-benar membawa harapan baru bagi kami.”
Lynx tersenyum tipis, meskipun matanya memancarkan rasa khawatir. “Aku hanya ingin memastikan kita semua punya kesempatan untuk melawan. Dan untuk menang.”
Setelah pertemuan itu, Lynx keluar dari bangunan bersama Darek, meninggalkan suku Raksa yang sibuk mempersiapkan diri. Lynx dapan mendengar suara keramaian dari dalam saat suku Raksa berdiskusi dengan penuh semangat tentang rencana perjalanan mereka ke barat.  Dalam hati, Lynx tahu bahwa ini hanya langkah pertama dari perjalanan panjang untuk melawan Monrest. Tapi melihat semangat yang muncul di antara mereka, ia merasa yakin bahwa mereka memiliki peluang untuk menang.
“Darek,” katanya, memecah keheningan.
“Iya, Lynx?” Darek menoleh, ekspresinya serius.
“Aku ingin berpamitan. Aku harus segera berangkat ke barat,” ujar Lynx tanpa basa-basi. “Ada seseorang yang harus aku temui. Ini penting.”
Darek tampak terkejut. “Berangkat? Sekarang? Tapi... kami baru saja mulai mempersiapkan diri.”
Lynx mengangguk, meletakkan tangan di bahu Darek. “Itu sebabnya aku mempercayakan ini padamu. Kamu harus bisa menyatukan suku kalian dan memastikan mereka bergabung dengan yang lain di barat. Aku tahu ini tugas besar, tapi aku yakin kamu mampu melakukannya.”
Darek terdiam sejenak, menyerap kata-kata Lynx. “Tapi, Lynx... kapan kau akan berangkat? Apa kau tidak bisa menunggu lebih lama lagi?”
“Aku harus pergi segera,” jawab Lynx dengan tegas. “Setiap detik yang terbuang bisa membawa bahaya. Tapi aku percaya pada kamu, Darek. Bekerjasamalah dengan Uban, kepala suku Yaksa. Pastikan kalian semua sampai di barat dengan selamat.”
Darek menunduk, merasa beban tanggung jawab itu cukup besar. Namun, ia mengangkat wajahnya kembali, menunjukkan keyakinannya. “Baik, Lynx. Aku akan pastikan semuanya berjalan lancar. Terima kasih karena sudah mempercayai aku.”
Lynx mengangguk kecil, lalu melanjutkan. "Aku akan menunggu kalian disana. Ayo, temani aku ke pinggir sungai. Aku akan berangkat lewat sana."
Darek langsung berbalik dan mengajak beberapa anggota suku Raksa. “Lynx akan berangkat duluan ke barat. Dia akan menanti kita disana. Ayo, kita antar Lynx ke pinggir sungai. Kita harus mengantarkan dia melanjutkan perjalanannya.”
Beberapa anggota suku Raksa, termasuk Rafin dan Ekar, berkumpul dengan cepat. Mereka memandang Lynx dengan rasa hormat yang mendalam, bersiap untuk menemani perjalanan pendek itu.
“Kita tidak akan membiarkanmu pergi tanpa memastikan kamu mendapat awal yang baik,” kata Rafin dengan senyum tipis.
“Betul. Kau sudah menyelamatkan kami. Ini cara kami berterima kasih,” tambah Ekar.
Lynx hanya tersenyum kecil, menghargai niat baik mereka.
Mereka berjalan bersama menuju sungai. Ketika mereka tiba di tepi sungai, Lynx melihat beberapa anggota suku Yaksa telah menunggunya dengan perahu yang sudah siap.
